Selasa, 23 Februari 2021

Selesai Menempuh Pendidikan, L.B. Moerdani Bertemu Dengan Teddy Rusdy Saat Sesi Tanya Jawab

Google.com

L.B. Moerdani mengenal Teddy Rusdy saat Teddy selesai menempuh pendidikan, para pimpinan Markas Besar (Mabes) ABRI dan TNI AL memberikan sebuah wejangan pembekalan untuk para anggota di Sesko ABRI yang juga diikuti oleh Mayor Udara Teddy Rusdy.

Jenderal L.B. Moerdani pun akhirnya langsung membuka sesi tanya jawab, pada saat itulah Teddy Rusdy memberanikan dirinya untuk membuka suara dan mengeluarkan analisanya mengenai “Peristiwa Malari”. Yang ada dipikiran Teddy adalah dalam peristiwa Malari tersebut ada sesuatu yang dirahasiakan.

Tak hanya sebagai perbedaan sikap, secara pandangan dan persepsi pun dua pembantu dekat Presiden Soeharto, yaitu Jendral TNI Sumitro yang pada masa itu menjabat sebagai Kepala Staf Kopkamtib dengan letnan Jendral TNI Ali Murtopo selaku Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto.

Kala itu L.B. Moerdani terkesan dengan analisa Teddy Rusdy. Setelah masa pendidikan selesai, melalui KSAU Marsekal Saleh Basarah, Teddy diminta untuk menemui L.B. Moerdani. Pada intinya L.B. Moerdani meminta agar Teddy Rusdy membantu L.B. Moerdani sebagai staf Intelijen di Markas Besar ABRI.

 

Sumber : indonesiana.id

Pada 1974, Teddy Rusdy Direkrut Oleh Jenderal L.B.Moerdani Sebagai Perwira Intelijen

 

Google.com

Jenderal L.B. Moerdani  juga menegaskan bahwa ungkapan “ An intelligence officer is a foceless Hero!” diperuntukan untuk seorang perwira intelijen tidak dapat menunjukan dengan mengatakan sasaran yang dihancurkan berkat tindakannya.

Apabila gagal, kita tidak boleh mencari-cari alasan, namun dikecualikan dengan mengundurkan diri. Negara pun tak pernah mengakui sebagai pemberi perintah, yang terpenting dalam intelijen adalah suatu profesi tanpa mengenal jabatan dan batas-batas yang berkaitan dengan beberapa organisasi.

Para perwira intel harus dapat menembus berbagai kendala dan hambatan yang formal dalam melaksanakan tugasnya. Dengan berlatar dengan “kelonggaran-kelonggaran” seperti itu, seorang perwira intel disyaratkan untuk mempunyai sikap disiplin, kepribadian, integritas tinggi, juga tahaun godaan dan bujukan untuk tidak menyalahgunakan kepercayaan serta wewenang yang sudah diberikan.

Mas Teddy Rusdy yang direkrut oleh Jenderal L.B. Moerdani sebagai perwira intelijen pada 1974. Salah satu kepala staf TNI-AU memerintahkan agar Mas Teddy segara dipindahkan dari anggota organic TNI-AU menjadi anggota organic Hankam untuk memenuhi permintaan Mayjen L.B. Moerdani, Asisten Intelijen Hankam/Asisten Intelijen Kopkamtib.

Pada saat itu, Mas Teddy Rusdy masih berpangkat Mayor Navigator dan memasuki jenjang tugas yang sudah diberikan serta karier di Mabes ABRI sampai dengan masa pensiunnya pada tahun 1994 sebagai Marsekal Muda TNI.

Selama dua puluh tahun lamanya, Mas Teddy mengabdi di jajaran Mabes ABRI yang jauh lebih panjang ketimbang di TNI-AU, sejak tahun 1962 sampai dengan tahun 1974, selama dua belas tahun.

Bahaya Terorisme Sudah Mengancam Negara Pakta Militer NATO

 

Google.com

Suatu organisasi intelijen disebuah negara selalu mempunyai Perwira Penghubung (Liason) dengan negara-negara sahabat di seluruh dunia. Bisa disebut sebagai negara sahabat, karena negara-negara ini dipersepsikan memiliki musuh atau ancaman bersama atau kepentingan bersama.

Negera Pakta Militer NATO atau Israel dengan negara-negara lain yang juga sudah merasa terancam oleh bahaya terorisme. Dengan sebagai bekal awal Jenderal L.B. Moerdani yang sudah menanamkan beberapa perilaku seorang intelijen kepada Mas Teddy Rusdy.

Dalam hal ini, Teddy Rusdy juga mengatakan bahwa dalam melaksanakan tugas kehidupan manusia mempunyai dua pilihan, yaitu sebagai aktor atau sutradara. Seorang aktor juga harus tampil di panggung membawakan peran yang diembannya dan memainkan peranan yang sudah ditunjuk oleh sang sutradara.

Seorang sutradara pun sudah merencanakan dan membuat jalannya cerita. Making things happen dan dilakukan dari belakang layar. Tak hanya itu, seorang perwira intel diharapkan berada diluar panggung dan berusaha untuk tetap tidak menonjol atau lebih menarik perhatian alias low profile.

Hal seperti itu juga menjadi alasan dari penampilan Jenderal L.B. Moerdani dipublik yang sangat terbatas dan selalu berusaha untuk lolos dari kamera wartawan.

Tak Disangka, Dari Teddy Rusdy Kita Bisa Belajar Apa Itu Operasi Intelijen

Google.com

Teddy Rusdy lakukan hal ini demi menjaga kepentingan internasional yang harus dapat memanfaatkan teknologi yang sudah berkembang untuk mengadakan pengumpulan data intelijen. Tapi hal tersebut tak sepenuhnya terjadi karena dukungan sumber daya juga bergantung pada besaran dana yang dapat disediakan suatu pemerintah tersebut.

Ternyata, kepentingan nasional dan kewajiban internasional suatu negara menentukan sasaran serta menjadi prioritas juga kegiatan intelinjen dan keamanan. Misalnya, dalam hal ancaman musuh potensial, teroris, gerombolan dalam negeri, kegiatan ideology ekstrem, separatis dan lain sebagainya.

Teddy Rusdy mulai mengerti apa itu intelijen setelah membaca sebuah berita pada masa lalu, karena pengumpulan data melalui kegiatan operasi intelijen bersandar pada infiltrasi agen. Pada saat ini, lebih bersadar kepada teknologi pengintaian.

Seperti yang kita ketahui, setiap orang yang memimpin organisasi strategis memerlukan produk intelijen. Contohnya, kepala negara/pemerintahan dan panglime angkatan bersenjata. Banyak para pejabat intelijen yang berhimpun dalam suatu badan yang disebut intelijen komuniti di bawah naugan Badan Intelijen Nasional (BIN).

Dalam hal ini, Teddy Rusdy pun mengerti kenapa tugas pemerintahan di bidang intelijen biasanya mencakup fungsi-fungsi pengkajian dan penyusunan kebijaksanaan nasional di bindang intelijen. Tak hanya itu, penyampaian produk intelijen sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan kebijaksanaan pemerintah.

Tak hanya itu saja perencanaan dan pelaksanaan operasi intelijen memiliki fasilitas dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang intelijen.

Seperti Film James Bond, Ini Dia Kesan Utama Teddy Rusdy Terhadap Dunia Intelijen

Google.com

Teddy Rusdy memiliki kesan utama tentang intelijen adalah seperti James Bond dalam serial film 007 saat Teddy Rusdy masih menduduki bangku SMP. Sedangkan kata telik sandi sudah Teddy Rusdy ketahui sejak masih duduk di sekolah dasar.

Secara bertahap, akhirnya Teddy Rusdy mengerti apa itu intelijen. Jika diartikan secara sederhana, intelijen dapat dirumuskan sebagai segala usaha, kegiatan, dan tindakan yang terorganisasi. Untuk menghasilkan pengetahuan tentang masalah yang dihadapi dan seluruh aspek kehidupan sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan ternyata intelijen menggunakan “metode tertentu”.

Maka dari itu, kehidupan Teddy Rusdy terinspirasi serial film James Bond yang senantiasa ia nantikan dan tidak akan meninggalkan tontonan tersebut. Tak disangka, kata kunci “metode tertentu” itu menjadi penting.

Sebab, kata tersebut memiliki makna sebagai sebuah upaya pengumpulan informasi atau data, tertutup dan sudah melalui infiltrasi agen atau penyadapan pembicaraan. Kata intelijen sendiri berhasal dari bahasa inggris intelligence yang artinya kecerdasan.

Misalnya, terdapat sebuah kalimat bertuliskan “It requires a high degree of intelligence to thin job perfectly.” Bisa juga sebagai berita ataupun sebuah keterangan. Sedangkan, secret intelligence yang berarti keteangan rahasia atau bisa juga diartikan sebagai dinas rahasia.

Sementara itu, dalam sebuah kata sifat berarti cerdas. Misalnya dalam kalimat “He is an intelligent child.” Yang intinya, keamanan suatu negara diperoleh dari hasil olahan dan kajian yang berhubungan dengan kepentingan nasional suatu bangsa.

Senin, 22 Februari 2021

L.B. Moerdani dan Teddy Rusdy Miliki Hubungan Yang Baik Selain Atasan dan Anak Buah

Google.com

Setelah selesai menempuh tingkat pendidikan, melalui KSAU Marsekal Saleh Basarah, Teddy Rusdy ditunjuk oleh L.B. Moerdani untuk menjadi Staf Intelijen di Markas Besar ABRI setelah L.B. Moerdani terkesan dengan analisa Teddy Rusdy.

Bukan hanya Teddy Rusdy saja yang bergabung sebai Staf Intelijen namun ada juga Letnan Kolonel Angkatan Darat Sudibyo Nugroho, Letnan Kolonel Angkatan Laut Sudibyo Rahardjo, dan M. Arifin. Mereka berlima akan digabungkan dan akan menjadi tim lingkar dalam Jendral L.B. Moerdani sampai beliau menjadi panglima ABRI dan Menteri Pertahanan Keamanan Republik Indonesia.

Hubungan Teddy dan L.B. Moerdani pun semakin intens setelah pertemuan di Mabes ABRI pada Februari 1975. Selain mempunyai hubungan antara atasan dan anak buah, keduanya pun kerap sekali kedapatan sedang main golf bersama, dan berdiskusi di bidang rencana serta pelaksanaan pembangunan ABRI masa depan selama lebih dari dua puluh lima tahun. Hal tersebut tentunya merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi Teddy.

 

Sumber : indonesiana.id

Berkat Sesi Tanya Jawab, L.B. Moerdani Bertemu Dengan Teddy Rusdy

Google.com

Setelah selesai menempuh pendidikan Teddy di Sesko ABRI yang diikuti oleh Mayor Udara Teddy Rusdy, para pimpinan Markas Besar (Mabes) ABRI dan TNI AL memberikan ceramah pembekalan. Setelah selesai memberikan ceramah pembekalan yang disampaikan oleh L.B. Moerdani pun membuka sesi tanya jawab.

Pada saat itulah Teddy memberanikan diri untuk mengeluarkan analisanya tentang “Peristiwa Malari”. Menurut Teddy, dalam peristiwa Malari tersebut ada unsur-unsur “terselubung”, selain sebagai akibat perbedaan sikap, pandanganm dan persepsi dua pembantu dekat Presiden Soeharto, yaitu Jendral TNI Sumitro yang saat itu mejabat sebagai Kepala Staf Kopkamtib dengan letnan Jendral TNI Ali Murtopo selaku Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto.

Pada saat itu pun L.B. Moerdani terkesan dengan analisa Teddy Rusdy. Setelah masa pendidikan selesai, melalui KSAU Marsekal Saleh Basarah, Teddy diminta untuk menemui L.B. Moerdani. Pada intinya L.B. Moerdani meminta agar Teddy Rusdy membantu L.B. Moerdani sebagai staf Intelijen di Markas Besar ABRI.

 

Sumber : indonesiana.id