Kamis, 25 Februari 2021

Dalam Tempur Operasi Naga, Teddy Rusdy Dianugerahi Bintang Sakti Maha Wira

 

Google.com

Dalam peringati Hari Kebangkitan Nasional ke-80 pada 20 Mei 1988 di Pendopo Agung Taman Siswa, Yogyakarta. Jenderal L.B. Moerdani selaku Panglima ABRI menyampaikan beberapa hal salah satunya dalam menyongsong abad ke-21 diperlukan suatu sistem pendidikan khusus “…untuk mendapatkan tenaga inti kekuatan kebangsaaan yang berkualitas tinggi dan dapat terus memperjuangkan, melanjutkan, mengamati, menjaga, membangun, serta mengembangkan cita-cita bangsa Indonesia, tidak ubahnya seperti Perguruan Taman Siswa pada zaman Kebangkitan Nasional dahulu.”

Selaku Asisten Perencanaan Umum ABRI yang juga merangkap sebagai Direktur E/Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan BAIS ABRI, Marsekal Muda TNI Teddy Rusdy ditugaskan oleh L.B. Moerdani untuk mewujudkan sebuah gagasan.

Sebelumya memang L.B. Moerdani sudah mengenal dekat Teddy Rusdy, saat beliau masih menjabat Asintel Hankam/ Asintel Kopkamtib (Asisten Intelijen) pada tahun 1974. Tepatnya saat Teddy Rusdy masih mengikuti pendidikan di Sesko dan masih menjabat sebagai Mayor.

Menurut L.B. Moerdani, Teddy Rusdy adalah orang yang paling tepat untuk mengembangkan tugas mulia yang sudah disiapkan untuk generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa. Saat itu bekal pengalaman yang didapatkan Teddy Rusdy sudah sangat lengkap.

Mulai dari pengalaman tempur dalam Operasi Naga yang ditugaskan untuk membebaskan Irian Barat, saat itu juga ia akhirnya dianugerahi bintang jasa tertinggi yakni, Bintang Sakti Maha Wira.

 

Sumber: Republika.co.id

Ternyata Lahirnya Sekolah SMA Taruna Nusantara Ide Dari Sang Jenderal L.B. Moerdani

 

Google.com

SMA Taruna Nusantara adalah sekolah yang didirikan hasil dari operasi intelijen, sejak berdiri 30 tahun yang lalu sekolah ini masih terus menarik minat pemuda-pemudi Indonesia untuk mengikuti pendidikan di SMA Taruna Nusantara.

Lahirnya sekolah SMA Taruna Nusantara ini dibentuk oleh orang-orang yang memiliki berlatar belakang intelijen, yakni orang yang bertugas di Badan Intelijen Strategis Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (BAIS ABRI).

Pada saat itu, L.B. Moerdani selaku Panglima ABRI memberikan sebuah ide yang berawal dari analisis intelijen. Seperti yang kita ketahui, L.B. Moerdani mempelajari banyak perjalanan sejarah bangsa dunia dan juga memperlajari strategi yang ia siapkan untuk menyongsong Abad ke-21.

Karena derasnya arus globalisasi di segala bidang, semakin mengaburkan batas-batas budaya, peradaban serta bangsa dan negara terjadi di akhir Abad ke-20. Menurut L.B. Moerdani, bangsa-bangsa yang akan siap menerima abad ke-21 adalah mereka yang sanggup menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman.

Tak hanya itu saja, menurut L.B. Moerdani pelestarian dan pengembangan jati diri bangsa hanya dapat dilakukan melalui pendidikan semata. Maka dari itu ia banyak mempelajari berbagai system pendidikan yang baik untuk Indonesia maupun mancanegara.

Melalui studi banding tersebut, sistem Taman Siswa dipercayai oleh L.B. Moerdani cocok untuk tujuan melestarikan dan mengembangkan nilai, paham, dan semangat kebangsaan.

 

Sumber:Republika.co.id

Rabu, 24 Februari 2021

Mengajukan Analisa Terkait Peristiwa Malari Membawa Teddy Rusdy Menjadi Marsekal Muda

Google.com

Pada 1 Juni 1986, Teddy Rusdy berhasil meraih cita-citanya dnegan mendapatkan pangkat Mersekal Muda. Kenapa bisa terjadi? Yaitu ketika ia sedang mendampingi Benny Moerdani yang  Panglima ABRI dengan menjadi Asisten Perencanaan Umum (Asrenum).

Pada masa itulah dimana Teddy Rusdy membangun Intelijen Indonesia dan juga bekerja untuk membenahi lembaga ABRI bersama sang atasan L.B. Moerdani. Dengan ia mendampingi L.B. Moerdani makna ia juga melunasi tugas-tugas Musykil.

Bagaimana L.B. Moerdani dan Teddy Rusdy kenal? Perkenalan pertama Teddy Rusdy dengan sang atasan ketika Teddy sedang menempuh pendidikan dan mengikuti ceramah pembekalan di Sesko ABRI pada tahun 1974.

Tak disangka, saat itu yang memberikan ceramah pembekalan adalah L.B. Moerdani yang merupakan Asisten Intelijen Kopkamtib. Saat ada sesi tanya jawab, dengan berani Teddy Rusdy mengajukan analisanya terkait Peristiwa Malari.

Sebelumnya memang Teddy sudah mengumpulkan semua materi dan informasi terkait Malari. Pada akhir ia menunjukan hasil analisanya, L.B.Moerdani pun terkesan dengan apa yang dituturkan oleh Teddy Rusdy.

Seketika, ia langsung meminta Teddy Rusdy untuk membantu tugas-tugasnya di bidang Intelijen. Sejak saat itulah mereka bersama dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh negara kepada mereka, bahkan tugas yang musykil sekalipun.

 

Sumber : tribunnews.com

Tawaran Menjadi Bupati Teddy Rusdy Tolak Demi Mengejar Pendidikan Di Seskoau

Google.com

Pada 1972, Teddy Rusdy pernah bertugas sebagai Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Rembiga, Mataram, Lombok Barat, pada saat itu ia dilantik sebagai Ketua DPD Golkar Lombok  Barat. Namun tak bertahan lama, dalam setahun karirnya di Golkar meningkat dengan diberikan amanah untuk menjadi Sekretaris DPD Golkar Provinsi NTB.

Karena Teddy Rusdy memiliki wawasan yang tinggu dan juga sikapnya membuat banyak orang senang lantas mendorong mereka untuk segara mencalonkan Teddy Rusdy sebagai Bupati Lombok Barat. Hal itu disampaikan oleh Panglima KODAU IV, Marsekal Muda Suwoto Sukendar.

Agak sulit bagi Teddy Rusdy untuk menolak dan mengelak karena jika dilihat dari struktur maka ini sebenarnya perintah langsung dari atasan. Pada saat itu pun, ia langsung mengingat alasan utama dia ingin menjadi perwira TNI AU.

Selain mengabdi lewat jalur militer ia juga harus meneruskan perjuangan sang kakek yang ingin ia mencapai tingkat marsekal, Jenderal TNI-AU. Penawaran untuk menjadi bupati itupun akhirnya ia tolak karena ia lebih memilih untuk mengikuti Pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Uadara (Seskoau) saat ia masih berusia 35 tahun.

Karena jika ia menerima tawaran menjadi bupati maka usianya akan selesai menjabat bupati. Sedangkan usia itu sudah terlalu tua untuk bisa mengikuti Pendidikan di Seskoau. Karena merasa tidak enak, ia pun langsung mencarikan orang yang cocok untuk mengisi tawaran terebut. Berntung, Marsekal Muda Suwoto Sukendar juga berkenan dengan usulan yang diberikan oleh Teddy Rusdy.

 

Sumber : tribunnews.com

Operasi Mandala Sukses, Teddy Rusdy Naik Tingkat Menjadi Letnan Udara II

Google.com

Karena Teddy Rusdy memiliki potensi yang luar biasa, Mayor Jenderal Soeharto langsung menariknya untuk ke Jakarta dan langsung bergabung dalam Operasi Mandala. Teddy adalah orang pertama asal Indonesia yang berhasil menerbangkan pesawat pembon strategis TU-16/KS, buatan Uni Soviet.

Karena hanya ada dua negara yang memiliki pesawat seperti itu di luar Uni Soviet pada saat itu, yakni hanya Mesir di bawah kepimpinan Presiden Gamal Abdul Nasser dan Indonesia di bawah Presiden Soekarno.

Teddy Rusdy yang mulanya memiliki tingkat  Letnan Muda Udara 1 kini naik tingkat menjadi Letnan Udara II karena Operasi Mandala sukses dan memuluskan jalan bagi Jenderal Soeharto untuk meroketnya karirnya.

Tak hanya itu saja, Teddy Rusdy pun mendapatkan penghargaan Bintang Sakti sebagai sebuah tanda kehormatan yang diberikan untuk menunjukan sifat-sifat keberaniannya dan jiwa kepahlawanannya. Ketika Teddy berumur 25 tahun, ia mulai menemukan kebenaran tentang Mustafa Kamal Atatur bahwa masa depan memanglah terletak di atas langit.

Pada akhirnya, ia mencoba untuk menghabiskan waktu mudanya dengan cara memperdalam pengetahuannya dan juga meluaskan jaringan. Ia juga langsung meningkatkan ketangkasannya dalam bekerja.

Hebatnya, karir Teddy Rusdy pun langsung menanjak tinggi karena pembawaannya yang cerdas, simpatik dan juga mudah untuk akrab dengan siapa aja. Teddy pun memang pernah mendapatkan tugas sosial, selain di bidang militer dan mendapatkan sifat ramahnya.

 

Sumber : tribunnews.com

Saat Masih Di India, Teddy Rusdy Berhasil Terbang Cross-Country Sejauh 1.500 Mil Tanpa Peta

Google.com

Seperti yang kita ketahui kalau Teddy Rusdy adalah seorang remaja yang sangat gemar memnaca dan melumat banyak buku, seperti novel petualangan dan juga biografi para tokoh penting. Tak hanya berhenti disitu, imajinasi yang dimiliki Teddy Rusdy juga meningkat karena didorongnya imajinasi tokoh-tokoh dari buku yang dia baca.

Baik kisah itu fiksi atau nyata, karena Teddy  remaja yang ingin juga menjadi seorang jagoan yang gagah, perkasa, dan juga memiliki kecerdasan. Ia terinspirasi oleh Tom Sawyer, Robinson Crusoe, Winnetou, bahkan sampai tokoh Bung Tomo dan Mustafa Kamal Ataturk.

Berkat akumulasi pengentahuan yang ia dapat dari membaca buku-buku Teddy Rusdy dapat lulus dengan mudah untuk bergabung dan mewujudkan impiannya untuk menjadi calon navigator di Angakatan Udara.

Mendapatkan kesempatan emas tersebut, Teddy Rusdy tak tinggal diam. Ia langsung belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis penerbangannya di India tepatnya di Air Force College.

Tak disangka, dia lulus pada 1961 dan meraih pangkat Letnan Muda Udara 1. Mulai dari sanalah karis Teddy Rusdy terus merambat naik, meski kini kondidinya serba terbatas. Diapun memulai dengan gemilang ketika ia terlibat dalam Operasi Trikora di Maluku saat usianya masih 22 tahun.

Karena menjadi satu-satunya yang terbaik di bidang navigasi dan prosedur oeprasi radio-silent, Teddy Rusdy dilibatkan kedalamnya. Teddy juga belajar terbang cross-country sejauh 1.500 mil tanpa peta saat ia masih menempuh pendidikan di India.

Hebatnya, ia melakukan penerbangan itu hanya bermodalkan paduannya kepada posisi bulan dan bintang. Teddy Rusdy juga menggunakan instring, analisis, dan juga hanya berpatokan dengan tatapan matanya.



Sumber : tribunnews.com

Ternyata Darah Pejuang Teddy Rusdy Lahir Dari Sang Kakek Yakni Yai Zis

Google.com

Teddy Rusdy merupakan putra dari Hayuni Mathamin dan Nyi Mas Rodiah yang lahir pada 11 Mei 1939 di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Tak disangka, Teddy kecil masih mengalami kesulitan ketika negeri ini  berada di bawah kekuasaan Belanda, Jepang sampai akhirnya Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Menurut Teddy Rusdy, pengalaman atau memori paling kuat saat ia masih kecil adalah ketika sang kakek, Haji Muhammad Zis pulang dari pengasinannya di Boven Digoel. Sang kakek biasanya dikenal sebagai Yai Zis yang merupakan seorang aktivis Syarikat Islan di Banten.

Kakek Yai Zis dikirim ke Boven Digoel, Papua pada 1929. Lalu sang kakek pulang pada 1949 saat Teddy Rusdy berusia 10 tahun.

"Peristiwa itu saya ingat secara kental, sekaligus peristiwa itu menanamkan dan membentuk pribadi cinta tanah air pada diri saya," kata Teddy.

Tak hanya Yai Zis yang dikirim ke Digoel, ternyata Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Haji Agus Salim, Sayuti Melik pun pernah dikirim kesana. Dalam kamus sejarah perjuangan Indonesia, mereka yang pernah dikirim kesana adalah mereka yang dihormati dan disegani.

Tugas mereka untuk mempertahankan keyakinan tentang kemerdekaan Indonesia dan memilih untuk dibuang daripada harus berkompromi dengan pihak penjajah. Karena kakek Teddy Rusdy termasuk kelompok itu, maka darah pejuang pun mengalir deras dalam tubuhnya.

Maka itu, dia menghabiskan sekujur hidupnya untuk mengabdi kepada negerinya; tanah air yang dia cintai sepenuh hati.

Sumber : tribunnews.com